Menarik membaca tulisan Ana Nadhya Abrar yang berjudul Mencari Ketentraman (KR, Senin, 24 Maret 2008, halaman Opini). Sebuah ajakan untuk bersikap arif kepada masyarakat (termasuk kita) yang gelisah terhadap kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan tidak kembalinya uang negara yang dicuri oleh para koruptor, serta pemerintah yang tak mampu berbuat banyak. Ajakan untuk ’jangan mengkhayal’, ’jangan menyesal’, dan ’jangan khawatir’ memang sedikit meredakan ketegangan, apalagi ditutup dengan mengutip Al Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 11 ”Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”.
Akan tetapi rasa cemas terhadap realitas yang memang mengkhawatirkan akan kelangsungan hidup manusia Indonesia ini tentu tidak mudah hilang, sebelum akal kita mampu mengalahkan dengan argumen yang meyakinkan kapan dan dan dengan upaya harga kebutuhan pokok akan kembali terjangkau rakyat miskin. Sedangkan yang kita alami, kenaikan harga yang terjadi bukan hanya episode sesaat kali ini, tetapi bak sebuah gelombang yang beruntun menerpa berganti waktu berganti komoditi, semisal BBM, listrik, beras, minyak goreng, kedelai, terigu, dan entah apa lagi. Siapa berani menjamin tidak akan ada kenaikan harga-harga lagi
Jangan Terperosok Dua Kali
Tidak mudah untuk menaruh harapan kepada pemerintah. Dari tiga periode pemerintahan pasca reformasi, tetapi banyak kebijakan yang tidak sejalan dengan keinginan rakyat. Barangkali benar apa yang ditulis oleh Tjahjo Kumolo (Sumber: http:www.media-indonesia.com, 4 Oktober 2007) di sebuah harian ibukota, bahwa negara kita mengalami tragedi besar dalam sekian tahun belakangan yaitu hilangnya negarawan. Dengan langkanya negarawan yang mengabdi untuk kesejahteraan rakyat, berarti kita tidak bisa terlalu berharap pada para elit saat ini.
Hasil dari reformasi yang berbuah pada lengsernya Suharto tahun 1998, masih tetap terfokus pada pergantian figur belum menyentuh sistem. Pergantian figur yang memerintah belum bisa menentramkan rakyat dari kekhawatiran akan kenaikan harga kebutuhan pokok, belum pula bisa mengembalikan uang negara yang dicuri oleh para koruptor bahkan terkesan tak mampu berbuat banyak. Jika demikian mungkin kita perlu berfikir mencari sistem alternatif untuk merubah sistem ekonomi liberal yang berlaku saat ini aar tidak berkali-kali tidak menyesali ketidaksejahteraan, misalnya beralih ke sistem ekonomi Islam yang sedang menggeliat akhir dekade ini.
Jangan Takut terhadap Perubahan
Wajar jika kita takut untuk merubah tatanan lama menjadi tatanan baru, terkecuali jika ada jaminan bahwa tatanan baru itu akan membawa kebaikan bagi kita. Justru di sinilah relevansi dari makna ayat 11 Surat Ar-Ra’du (”Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”). Kita sudah berkali mengganti figur pemerintah tetapi keadaan bukannya membaik, maka mengapa kita masih ragu untuk merubah tatanannya, misalnya beralih ke sistem ekonomi Islam, agar keadaan kita dirubah menjadi lebih baik oleh Allah.
Dalam sistem ekonomi Islam, disamping ada konsep peniadaan riba (yang digunakan untuk menjebak negara berkembang), juga ada konsep harta yang tidak boleh dikelola oleh swasta, diantaranya hutan dan tambang yang harus dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Inilah salah satu pos pendapatan yang menjamin kesejahteraan rakyat, apalagi Indonesia memiliki kekayaan alam berupa hutan dan aneka tambang yang melimpah.
Jangan Takut Berkhayal
Sistem ekonomi Islam, meskipun sudah mulai familier bagi kalangan akademisi dan praktisi ekonomi, tetapi mungkin masih belum dimengerti atau disalahartikan sebagai sektarian bagi sementara kalangan. Sehingga masih cukup jauh untuk berbicara tentang aplikasinya, kecuali sebatas masalah perbankan syariah. Tetapi sebagai sebuah konsep ekonomi, sebagaimana konsep ekonomi liberal maupun ekonomi sosialis, maka tetap ada harapan bahwa rakyat negeri ini akan terselamatkan oleh sistem ekonomi Islam berikut tatanan Islam lainnya. Sesuatu konsep yang saat ini masih khayalan tidak menutup kemungkinan suatu saat akan terealisasikan.
Berpikir Mengubah Keadaan
Tatanan ekonopmi liberal yang sekarang berlaku, sebelumnya juga hanya berupa konsep pada pemikiran tokoh-tokoh pencetusnya. Demikian pula sistem ekonomi Islam yang saat ini sebagian besar masih tersimpan dalam konsep, suatu saat jua memungkinkan untuk diberlakukan, jika masyarakat sudah memahaminya. Maka ada baiknya kita berpikir alternatif untuk berupaya mensosialisasikan konsepsi ekonomi Islam, dan berharap suatu saat akan diberlakukan. Semoga akan terjadi kembali masa dimana tidak ada orang yang bersedia menerima zakat, karena tidak ada orang miskin, seperti zaman Khalifah Umar bin ’Abdul ’Azis.
Monday, March 24, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment