Sunday, March 23, 2008

Kemenangan Ingkang Hakiki, Oktober 2006

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَ دِيْنِ الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكاَفِرُوْنَ
أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصَحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلِى يَوْمِ الدِّيْنِ
فَياَ أَيُّهاَ النَّاسُ: أُصِيْكُمْ وَإِياَّيَ بِتَقْوَى اللهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Qolallhohu Ta’ala fil Qur’anil adzim :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Jama’ah jum’at rohimakumulloh,
Monggo kito sami ngunjukaken puji dhumateng Allah SWT, awit sedoyo kani’matan, awit pitedah-Ipun kito kalebet tetiyang Islam.
Saestu kito iman bilih mboten wonten Dzat Ingkang haq dipun sembah kejawi naming Allah SWT; lan saestu kito iman bilih Kanjeng Nabi Muhammad Saw puniko utusanipun Allah SWT.
Monggo kito sami ngiyataken keimanan kito kanthi netepi dhawuhipun Allah SWT & RosuliPun sarto nebihi awisanipun. Anjagi – aningkataken buah ibadah Ramadhan ingkang nembe.
Wonten ing wulan Ramadhan Allah SWT sampun majibaken shoum kangge membentuk pribadi ingkang taqwa (la’allakum tattaqun)
Wonten ing wulan Romadhon puniko ugi wiwitipun tumuruning Al Qur’an kangge pitedah gesang sedoyo manungso

]شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ[
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqân) (antara haq dan batil). (QS al-Baqarah [2]: 185).

Akhir Ramadhan merupakan kebahagian tersendiri bagi kaum Muslim; bahagia karena telah mampu menyelesaikan dan menyempurnakan salah satu hukum Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda:
«لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ»
Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang membahagiakannya: ketika berbuka (termasuk pada saat Idul Fitri) ia bahagia dan ketika bertemu dengan Tuhannya ia pun bahagia karena puasanya itu. (HR al-Bukhari).
Pada saat Idul Fitri wajah kaum Muslim tampak memancarkan kebahagiaan sebagai lambang kemenangan. Hari itu kaum Muslim memproklamirkan kemenangannya atas hawa nafsunya. Rasa syukur diwujudkan dengan lebih mengukuhkan kembali silaturahmi dengan handai taulan dan silah ukhuwah (tali persaudaraan) dengan kaum Muslim yang lain.
Sejatinya, suasana yang subur dengan kebahagiaan dan hangatnya ukhuwah pada Hari Raya Idul Fitri ini dapat menumbuhkan ghîrah (semangat) baru untuk bersama-sama menata kembali kehidupan berlandaskan akidah dan syariat Islam. Sebab,
Idul Fitri merupakan hari pertama pasca Ramadhan; kaum Muslim mengawali hari-hari berikutnya dalam 11 bulan ke depan. dengan bekal ketakwaan yang telah dipupuk selama Ramadhan. Oleh karena itu memasuki bulan Syawal ini, jangan sampai hawa nafsu yang telah ditahan di bulan Ramadhan, justru jebol. Baik itu dalam hal sholat (ibadah mahdhah), baca Al Qur’an, berbusana muslim, menjaga akhlaq.
Lebih dari itu; Al-Quran petunjuk hidup bagi manusia. harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Nabi saw. dalam berbagai hadisnya menegaskan, bahwa siapapun yang berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya. Allah SWT berfirman:
]وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا[
Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul, ambillah; apa saja yang dilarang olehnya, tinggalkanlah! (QS al-Hasyr [59]: 7).

Allah SWT telah mensyariatkan Islam kepada Muhammad saw. sebagai satu-satunya agama yang benar. Islam adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama makhluk baik manusia dan makhluk lainnya.
Karena itu, menerapkan hukum-hukum Islam secara total dalam berbagai aspek kehidupan manusia merupakan penyebab hakiki bagi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Di dalam penerapan itulah terdapat keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Allah SWT berfirman:
]وَِللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ[
Kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya. (QS al-Muna-fiqun [63]: 8).
Sebaliknya, jauhnya kaum Muslim dari Islam dan hukum-hukumnya, itulah penyebab hakiki kelemahan, ketertinggalan, dan kenestapaan mereka. Allah SWT berfirman:
]وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى[
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124).

No comments: