Merangsang Produksi Mengamankan Distribusi
Wahyudi Djafar dalam tulisannya “Membongkar Hegemoni Beras” (Sindo, 25/3) berpendapat bahwa beras mampu menjadi penggerak bangkitnya people power, karenanya demi menurunkan tingkat politisasi beras maka pemerintah memassifkan program diversifikasi pangan. Tulisan tersebut ditanggapi oleh Joni Murti Mulyo Aji dalam tulisannya ”Diversifikasi Saja Tidak Cukup” (Sindo, 27/3), yang berpendapat bahwa untuk mengurangi hegemoni beras hanya bisa dilakukan dengan cara mengurangi konsumsi (termasuk diversivikasi pangan) dan memperbesar produksi. Namun untuk menggerakkan petani agar terus meningkatkan produksi, ketika harga rendah, sama saja dengan menggiring petani memasuki jurang kemiskinan. Karena itu diperlukan kemauan politis dari pemerintah untuk melaksanakan kewajiban stabilisasi harga gabah di tingkat petani.
Memproduktifkan Lahan Nganggur
Peningkatan produksi pertanian bisa dilakukan dengan cara intensifikasi untuk meningkatkan kemampuan produksi tanaman, maupun dengan cara ekstensifikasi untuk memperluas areal penanaman. Menurut Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, lahan pertanian pangan seluas 12 juta ha (Sindo, 30/3). Ekstensifikasi dengan pembukaan lahan pertanian baru memerlukan biaya yang mahal, sebagai gambaran pembukaan lahan baru seluas 5000 ha di Merauke Papua dibutuhkan dana sebesar Rp 400 miliar. Belum lagi masih harus bersaing dengan industri perkebunan sawit.
Pemanfaatan lahan tidur bisa sebagai alternatif perluasan areal pertanian tanpa pembukaan hutan. Akan tetapi hal itu memerlukan kebijakan dan peraturan khusus, misalnya larangan penelantaran lahan selama tiga tahun berturut-turut. Hal ini akan mengurangi penyusutan lahan produktif oleh sekedar untuk investasi tanah yang relatif aman dan menguntungkan. Dengan kata lain seseorang yang memiliki lahan akan didorong untuk memproduktifkan lahannya.
Subsidi untuk Mendorong Produksi Pertanian
Pengelolaan lahan pertanian memerlukan ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi. Untuk itu diperlukan penyediaan benih, pupuk dan obat-obatan, mesin-mesin pertanian dengan harga yang terjangkau. Sehingga subsidi untuk sarana-sara produksi pertanian memang menjadi sesuatu yang seharusnya ada untuk mendorong produksi pangan. Bahkan jika perlu berupa bantuan langsung misalnya berupa benih unggul. Subsidi di sektor hulu pertanian ini lebih logis karena secara tidak langsung juga akan dirasakan rakyat pada umumnya, berupa ketersediaan pangan murah.
Sebaliknya dengan peniadaan subsidi pada akhirnya juga memberatkan rakyat, karena harga produk pertanian relatif menjadi mahal. Sedangkan jika pemerintah hanya mengambil jalan pintas dengan mengimpor dari luar negeri tentu hal ini akan semakin menggencet nasib petani, karena harga produknya yang menjadi mahal oleh ketiadaan subsidi harus bersaing dengan produk impor yang secara kualitas bisa jadi lebih baik dan harga lebih murah.
Menata dan Mengamankan Distribusi
Produksi hasil pertanian pangan yang tinggi, tetap memerlukan perhatian untuk menjaga pasar dari praktik-praktik kecurangan penimbunan. Bukan mustahil kelaparan masih mungkin terjadi jika praktik penimbunan komoditas pangan tidak diberantas tuntas.
Khatimah
Walhasil, permasalahan rendahnya daya beli rakyat perlu diimbangi dengan mendorong peningkatan produksi pangan dan pemerataan distribusinya. Kita semua tentu tidak mengharapkan kasus kematian warga akibat kelaparan seperti kejadian seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan dan anaknya berusia 5 tahun meninggal karena kelaparan (Metrotv, 1/3/08) di Makasar, anak 3 warga kampung Genteng, Kecamatan Cilamajang, Tasikmalaya (Republika, 11/03/08) terjadi lagi.
Sebagai catatan tambahan, kita perlu melanjutkan lebih jauh apa yang telah dirintis oleh Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari dalam buku best seller-nya ”Saatnya Dunia Berubah”. Kita harus melawan kapitalisme global yang mencengkeram negeri ini. Tekanan asing untuk menghapus subsidi tidaklah tepat dituruti, karena akan menjadikan komoditas pertanian kita menjadi lebih mahal dari produk impor yang mereka gelontorkan. Sehingga bukan hanya kekayaan alam kita yang dikuras, tenaga kerja kita yang dihargai murah, tetapi lebih disempurnakan dengan menjadikan negeri kita pasar bagi produk-produk mereka. ”Saatnya dunia berubah, saatnya kita berpaling kembali kepada Islam”.
Wednesday, April 2, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment