Tuesday, November 20, 2007

Generasi Vetsin



Kembali ke BBM Brambang Bawang Miri

Setiap kali ada tetangga melahirkan, ‘jagong bayen’ menjadi ritual social yang harus dilaksanakan, kalau tidak mau menjadi ‘rasanan’. Sore saya sudah sempat merebahkan badan sepulang kerja, sehingga badan terasa ringan ketika berangkat ‘njagong’.
“Mas-e mau njagong ya, ayo kita bareng”, mak ’jegagik’ saya kaget begitu keluar pintu sudah disapa Kang Supiyoto.
“Oh ya kebetulan ada teman greneng-greneng”
Setelah basa basi sebentar dengan tuan rumah kami duduk mojok mepet pintu, ndlosor di tikar plastic. Agak santai karena golongan kasepuhan sudah pada njagong beberapa hari sebelumnya.
“Mas-e, saya heran koq sekarang orang jadi mudah sakit. Kadang penyakitnya juga aneh-aneh yang dulu tidak dikenal yo . . “, Kang Supiyoto membuka pembicaraan.
“Heh ! Njagong jagong bayen koq ngomong penyakit ora ilok”, timpal Lik Suloyo yang duduk di sebelahnya. Saya terdiam tidak menyahut.
“Tapi betul kata Supiyoto, apalagi orang seusia saya ini. Wis rag-preg, padahal dulu. Generasi simbah-simbahmu sudah tua-tua masih pada kuat macul”, sambung pakDhe Supodo. Giliran Lik Suloyo terdiam ‘kalah awu’.
“Jangan-jangan karena makanan kita tidak sehat ?”, celetuk saya.
“Makanan orang sekarang ya tentu lebih sehat dan bergizi to. Dulu makan ganyong makan, ubi, sekarang makan roti makan fred chicken”, sergah Lik Suloyo.
“Ya bahannya mahal, rasanya enak, sajiannya menarik Lik. Tapi bumbunya kebanyakan gula garam vetsin”, sambung saya.
“Iya Mas-e, saya jadi ingat vetsin kata guru saya dulu tidak baik”, imbuh Kang Supi. Tumben Kang Supiyoto ingat zaman sekolah,
“Ya memang, kalau dulu orang makan itu bahannya sederhana tapi bumbunya macam-macam, ada brambang ada bawang ada miri dan thethek bengek lainnya yang saya sendiri tidak hapal. Belum lagi jamunya aneka macam”, pakDhe Supodo menambahkan.
“Wah kalau begitu saya harus mengontrol dapur. Istri saya harus meninggalkan vetsin kembali ke bumbu BBM”, celetuk Kang Supi.
“Apa itu BBM Kang Supi”, tanya saya.
“Brambang Bawang Miri”, kata Kang Supi santai.
“Ha…ha…ha…”, kami ketawa, dan kembali heining seiring keluarnya makanan cegah lek.
Semua penjagong asyik menikmati bakwan bervetsin, tahu susur bervetsin, kerupuk bervetsin, kue pasar berpewarna kain, minum the bergula aspartame. Lupa . . .


Kunci rahasia khasiat bawang putih
(http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/10/071016_garlichealth.shtml)
Diperbaharui pada: 16 Oktober, 2007 - Published 09:02 GMT

Para peneliti telah berhasil mengungkap misteri penyebab makan bawang putih bisa membantu menjaga kesehatan jantung.
Kuncinya adalah allicin, yang diuraikan menjadi senyawa sulfat sangat berbau yang mencemarkan bau nafas.
Senyawa ini bereaksi dengan darah merah dan menghasilkan sulfida hidrogen yang merenggangkan saluran darah, dan membuat darah mudah mengalir.
Riset University of Alabama di kampus Birmingham muncul di Kertas Kerja Akademi Sains Nasional (NAS).
Namun, para pakar Inggris memperingatkan mengkonsumsi suplemen bawang putih bisa menimbulkan dampak samping.
Sulfida hidrogen menghasilkan bau telur busuk dan dipergunakan untuk memproduksi bom bau (stink bomb).
Namun, pada kadar rendah, senyawa itu memainkan peran vital dalam membantu sel-sel saling berkomunikasi dengan sesamanya.
Dan, pada pembuluh darah, senyawa itu merangsang sel yang membentuk lapisan mengendur dan menyebabkan pembuluh melebar.
Dan, ini pada gilirannya mengurangi tekanan darah, memungkinkan darah mengangkut lebih banyak oksigen ke organ tubuh esensial, dan mengurangi tekanan pada jantung.
Tim peneliti Alabama mencelupkan pembuluh darah tikus pada larutan yang mengadung ekstrak dari bawang putih yang diremukkan.


Hasil mencolok
Ini menghasilkan hasil yang mencolok -- dengan ketegangan di dalam pembuluh berkurang sebesar 72%.
Para peneliti juga mendapati bahwa sel darah merah yang terkena sedikit sekali sari bawang putih yang dijual di toserba segera menghasilkan sulfida hidrogen.
Percobaan lanjutan memperlihatkan bahwa reaksi kimia berlangsung utamanya pada permukaan sel darah merah.
Tim peneliti menunjukkan indikasi bahwa produksi sulfida hidrogen dalam sel darah merah mungkin bisa digunakan untuk menetapkan standard kadar bawang putih yang ditambahkan ke makanan.
Peneliti kepala Dr David Kraus mengatakan: "Hasil penelitian kami memperlihatkan bawang putih dalam makanan itu sangat bagus."
"Tentu saja di kawasan tempat konsumsi bawah putih tinggi, seperti laut Tengah dan Timur Jauh, tingkat terjadinya penyakit kardiovaskuler rendah."
Judy O'Sullivan, ahli rawat jantung pada Yayasan Jantung Inggris (BHF), mengatakan: "Penelitian menarik ini mengindikasikan bawang putih mungkin bermanfaat bagi kesehatan jantung."
"Namun, tetap saja belum ada bukti yang cukup untuk mendukung gagasan untuk memakan bawang putih sebagai obat untuk mengurangi risiko mengalami penyakit jantung," tambahnya O'Sullivan.
"Memasukkan bawang putih sebagai bagian dari variasi makanan adalah pilihan pribadi," ujarnya.
"Perlu dicamkan bahwa suplemen [bawang putih] dalam kadar tinggi mungkin berinteraksi dengan obat pengencer darah dan mungkin memperbesar risiko pendarahan," kata Judy O'Sullivan.

No comments: